Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terjemahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Desember 2009

prinsip dalam praktek, pasang surut, label dan lainnya

pertama, katakan pada diri anda sendiri apa yang anda inginkan, kemudian lakukan apa yang harus anda lakukan (Epictetus, Discourses)
riset dan penelitian telah gagal menemukan hubungan antara faktor genetik atau keturunan dengan bakat atau kecerdasan alami seseorang (michael Howe, Sense and Nonsense About Hothouse Children)

Dengan bantuan Barrow Community Learning Partnership (Education Action Zone) kesempatan telah muncul untuk mengeksplorasi dan menguji batasan-batasan dan kemungkinan dari prinsip prinsip yang diuraikan dalam bab ini, dan dengan demikian berusaha untuk memenuhi tantangan yang kini menghadang semua sekolah dan dinas pendidikan setempat : tuntutan dari dua agenda yang penting, yaitu meningkatkan prestasi dan mempromosikan inklusi. sementara dua agenda ini dapat dengan mudah saling bertentangan, tapi baik itu keyakinan maupun pengalaman kami mengatakan bahwa agenda ini tidak perlu melalui hukum alam menjadi kontradiktif. diberikan kerangka kebijakan yang memungkinkan mereka dapat saling mendukung. buku ini membantu untuk menetapkan sebuah kerangka, dengan harapan agar sekolah akan memilih untuk menerima tantangan kontemporer dari pengaturan untuk memenuhi kebutuhan semua siswa melalui penekanan pembelajaran cerdas berbakat istimewa, daripada pembelajaran tradisional, sepintas menarik tetapi pada akhirnya tidak memenuhi pendekatan test-dan-penempatan. kerangka ini tidak dimaksudkan untuk menjadi bersifat menentukan, dan berharap masing-masing sekolah maupun guru akan menggunakan kreativitas dan fleksibilitasnya masing-masing, sesuai dengan kebutuhan maupun kondisi di lapangan. tentu saja tidak ada satu sekolahpun dibawah the Barrow Community Learning Partnership yang akan yang akan mengklaim monopoli atas pencapaian dan inklusi dalam parameter kebijakan untuk pendidikan cerdas berbakat istimewa, tetapi ada banyak yang memegang prinsip-prinsip ini dan menerapkannya secara otentik maupun dikembangkan lagi. mereka cenderung menjadi sekolah yang mengakui kenyataan dari pepatah Professor Joe Renzulli yang makin terkenal, yaitu 'pasang naik mengangkat semua kapal'.

dalam membela dan menetapkan tantangan dan kemungkinan dari sekolah inklusif yang benar-benar berdasarkan visi pendidikan cerdas berbakat istimewa, saya merasa perlu untuk mengidentifikasi dan menangkap beberapa posisi yang tidak buku ini pentingkan:
  1. semua anak memiliki kecenderungan menjadi luar biasa yang setara.
  2. prestasi di bidang kurikulum tradisional tidak pantas dirayakan.
  3. aktivitas pengayaan dan penyuluhan yang hanya melibatkan sebagian kecil siswa ke tingkat tertinggi tidak begitu diperlukan.
  4. ada kebaikan atau moral yang tinggi yang diperlukan untuk mendevaluasi konsep cerdas berbakat istimewa, atau keterkaitannya bahwa pendekatan ini lebih berhutang pada ambisi teknik sosial daripada kenyataan sosial.
  5. menerapkan kebijakan inklusif pada kenyataan itu mudah.

sebaliknya, secara berurutan

  1. tentu saja kita tidak dilahirkan dalam keadaan yang "sama". Michael Howe, senior penyangkal argumen determinisme genetik di dunia keberbakatan, memenuhi syarat pernyataannya mengenai kurangnya bukti penelitian penjelasan genetik untuk bakat alami dengan memberikan point "... akan benar-benar salah untuk menyimpulkan bahwa semua bayi lahir identik, sejauh ini prekursor (pertanda) dari perbedaan kemampuan saling terkait. memang ada perbedaan antara bayi, beberapa di antaranya mungkin bawaan dan mungkin turunan, yang dapat memiliki berbagai macam efek pada perkembangannya kemudian"(Howe 1990:112). hanya saja "outcome/output" dari perbedaan ini tidak tetap, tidak langsung, dan tidak dapat diprediksi. saya akan berargumen bahwa hanya melalui memproklamirkan universalitas dari perbedaan individu dan bakat untuk menjadi luar biasa (baik yang disadari maupun yang masih tertidur) yang dapat menyangkal kesetaraan dari keberagaman bakat anak-anak, menyarankan bahwa bakat Einstein setara/sama dengan bakat Picasso (atau sebaliknya) dan hanya dibedakan oleh domain prestasi, bagi saya terlihat absurd dan tidak relevan dan mengkhianati fiksasi(pendapat yang mendalam) abad ke duapuluh mengenai peringkat, dan mengukur yang tidak dapat diukur dan tak dapat digolongkan. dalam hal yang lebih sederhana, dalam tingkat sekolah, memandang bahwa bakat Paul dan Clare itu setara (dalam bakat apapun juga) tampaknya sama sekali tidak menolong.
  2. dalam mengidentifikasi, memelihara dan merayakan keberagaman bakat dan kecerdasan yang tak terbatas, adalah sangat mudah untuk memasukkan pencapaian dari seorang gadis yang mendapatkan selusin nilai A*GCSE sebagai sebuah manifestasi dari giftedness
  3. bagi kegiatan penyuluhan yang disusun secara hati-hati untuk melibatkan siswa pada tingkat intensitas yang sama, bagi saya tampaknya tidak mungkin : sejauh mana kita tertarik pada domain penyelidikan yang berbeda adalah sebuah pertanyaan standar. siapa diantara kita yang akan sama-sama tertarik pada penyelidikan di sekitar teori membran dan prospek dari dunia paralel, masa depan internet, dunia bawah tanah Victorian London, dan implikasi dari ungkapan Quaker, "speaking truth to power(bicara kejujuran pada kekuatan)" tapi siapa diantara kita yang tidak akan tertarik belajar sesuatu pada topik-topik ini?
  4. sebagai sebuah saran, dimana saya juga sensitif, bahwa sebuah pendekatan inklusif sejati untuk pendidikan cerdas berbakat istimewa sangat mendevaluasi dan mencairkan konsep cerdas berbakat istimewa yang membuat domain tersebut tidak bermakna, saya akan mengatakan bahwa hanya saya tidak memiliki minat pada istilah cerdas berbakat istimewa sebagai sebuah bentuk tato, yang hanya terukur dalam kulit pada beberapa diantara kita, beberapa diantara kita yang sangat berharga. label, bahkan budaya label yang positif, tidak dengan sendirinya memimpin pembelajaran; mereka lebih cenderung membatasi. tetapi sebagai sebuah papan penunjuk jalan pembelajaran yang mendalam, bergairan dah otentik, istilah cerdas berbakat istimewa. istilah cerdas berbakat istimewa mungkin akan menjadi penanda yang kaya ketika tidak dibatasi oleh kuota, aura maupun eksklusifitas dan bagi banyak orang hal itu layak untuk dikejar. pendekatan ini bukanlah tentang rekayasa sosial maupun pembenaran politik; yang jauh lebih menari bagi sebagian guru adalah pertimbangan pragmatis dari efektifitas dan kegunaan. saya kebetulan percaya bahwa bukti-bukti menunjukkan bahwa model inklusif lebih baik daripada model eksklusif. jika pada saat yang bersamaan perbaikan sosial dijelaskan dalam Salamanca Statement on Special Needs Education bisa didukung, maka akan jauh lebih baik.
  5. ini tidak akan pernah menjadi mudah. begitu pula dengan adaptasi dari konsep inklusif tentang cerdas berbakat istimewa menjadi sebuah argumen untuk kepuasan, sebuah rasa yang mengatakan "kita sudah menyediakan segalanya dengan baik untuk siswa cerdas dan berbakat, karena menurut pengamatan kami semuanya sudah berjalan dengan baik." kalau ada, sebagai mana yang guru reflektif tahu, proses dari perencanaan, implementasi dan tinjauan yang teliti bahwa inklusifitas memerlukan tuntutan banyak pengamatan, pemikiran dan refleksi daripada model tradisional dari tes-dan-penempatan atau tes-penempatan-tes. tantangan dari inklusi adalah tantangan yang menegangkan, yang dapat membuat kemudahan memberikan sesuatu berbeda untuk beberapa yang sangat menggiurkan. ini bukan sesuatu hal yang baru. dalam pemikirannya di "clever children in comprehensive school", Auriol Stevens (1980) membayangkan atraksi dari pengalaman pendidikan yang terpisah dan berbeda yang diwujudkan dalam, misalnya saja, munculnya akademi untuk kaum muda yang berbakat istimewa : "tugas ini berat. dan dibuat semakin berat dengan mengatur sistem alternatif untuk "menyelamatkan" yang cerdas dengan cara membawa mereka keluar dari sekolah biasa. permasalahan mungkin telah dipecahkan oleh sarana, tetapi tidak akan pernah. perhatian akan teralihkan oleh hal-hal yang rinci, pekerjaan yang sungguh-sungguh meningkatkan standar untuk semua memerlukan" (ibid.:164)
refleksi yang lebih lanjut dari sekapur sirih keistimewaan : dalam explorasinya dari sikap penulis kenamaan J. K. Rowling terhadap anak-anak, Ruth Moore, pimpinan dari National Association of Teachers of English (asosiasi guru Inggris) membuat referensi implisit pada pendekatan "pasang naik" ketika dia mengamati bahwa "J. K. Rowling mengingatkan kita dengan tegas bahwa setiap anak-anak biasa mampu mencapai suatu prestasi yang luar biasa. yang perlu kita ingat adalah setiap guru mampu membantu mereka mencapainya (times educational supplemen, 1 Feb 2002, Curriculum special : English:4). dan dalam edisi NAGC news baru-baru ini, koran untuk National Association for Gifted Children, seorang ibu dari anak remaja meulis : "kami beruntung. Nicola sekarang berada di sekolah dimana disana semua murid dipandang sebagai individu yang unik, dengan bakat dan potensi yang menunggu untuk dikembangkan" (NAGC news, Jan./Feb. 2002:17). universalitas dan pengenalan dari perbedaan individu, dihadapkan pada fleksibilitas dan perbedaan. nah, bukankah itu semua mengenai inklusi

Pertanyaan untuk didiskusikan
  • apakah standar dan "agenda" inklusi itu harmonis?
  • apakah nilai dalam rangking "berbakat"? dalam situasi yang bagaimana?
  • apakah konsep inklusi menurunkan nilai istilah berbakat?

Minggu, 06 Desember 2009

apa nilai-nilai inti dan implikasi dari pendekatan inklusif pada pendidikan berbakat dan istimewa?

tantangan yang menghadang sekolah inklusif adalah mengembangkan pedagogik berbasis siswa agar mampu mendidik semua anak... jasa sekolah tersebut tidak hanya mereka mampu untuk memberikan pendidikan berkualitas untuk semua anak, pembentukan mereka juga langkah penting untuk membantu mengubah sikap diskriminatif, dalam menciptakan komunitas yang menyambut dan mengembangkan masyarakat yang inklusif. (UNESCO, Salamanca Statement, 1994)

saya percaya Tuhan tidak bermain dadu dengan semesta (Albert Einstein)

pengalaman saya sebagai guru Robert telah menuntun saya pada ketertarikan saya terhadap kebutuhan peserta didik yang lebih mampu, tetapi ingatan saya (pada Robert) bergema tiap kali saya mengingat kata kunci seperti "inklusif", "berbakat", "harapan yang tinggi", "prestasi" "cerdas", "istimewa", dll. tampaknya bagi saya tantangan yang saya dapatkan dari Robert hanyalah sebuah contoh kecil dari dilema yang dihadapi oleh semua guru yang berkecimpung dalam domain pendidikan berbakat istimewa : bagaimana caranya seseorang bisa menciptakan lingkungan belajar yang mampu menjangkau yang paling "bisa" dengan tanpa mengecualikan yang paling tidak "bisa", maupun sebaliknya? setiap usaha untuk menyelesaikan masalah atau pertanyaan ini pada titik tertentu akan merujuk pada prinsip-prinsip inti pendidikan atau nilai-nilai inti pendidikan. saya akan menyatakan beberapa dari prinsip pendidikan saya disini :
  • setiap/semua anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
  • tujuan utama pendidikan adalah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan para pemuda yang memiliki hasrat untuk belajar, dan untuk memfasilitasi agar mereka dapat memperoleh keterampilan dan agar hasrat belajar mereka terpenuhi dan pengaturan yang akan memungkinkan agar gairah belajar mereka terpenuhi dan terus dipertahankan.
  • peran utama sekolah adalah untuk memaksimalkan kesempatan semua anak untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.
  • tujuan utama pendidikan anak-anak akan berubah.
untuk prinsip-prinsip yang (relatif) tidak kontroversial ini, dapat ditambahkan :
  • tidak seorangpun bahkan orang itu sendiri akan pernah sepenuhnya menyadari potensi belajar yang ia miliki.
  • sebuah konsep tentang "kemampuan" adalah sebuah alat yang tidak berguna untuk mendeskripsikan atau memprediksikan kinerja seseorang
  • tujuan pendidikan anak-anak akan tercapai apabila kita mengatur dan menjawab pertanyaan. pertanyaan ini paling baik jika dibuaat oleh anak-anak itu sendiri
  • pembelajaran yang mendalam lebih mengutamakan kolaborasi daripada kompetisi
implikasi dari poin-poin diatas akan mengakui bahwa :
  • kecerdasan dan bakat lebih baik dilihat sebagai sesuatu yang relatif daripada absolute, dalam konteks baik kelebihan maupun kekurangan dalam profill perorangan anak tersebut dan dilihat dari lingkungan belajarnya yang lebih luas.
  • sekolah memiliki peran penting untuk membantu setiap anak untuk mengidentifikasi bakat maupun kecerdasannya.
  • bentuk penilaian yang paling efektif adalah formatif (penilaian untuk belajar) daripada sumatif atau normatif (penilaian untuk menunjukkan atau membandingkan). terkait dengan orientasi pembelajaran (penting untuk meningkatkan pembelajaran seseorang) cenderung mengarah pada pembelajarana yang efektif daripada berorientasi kinerja (penting untuk nilai-nilai saja)
  • kebijakan inklusif untuk pendidikan cerdas berbakat istimewa adalah satu-satunya model yang konsisten dengan prinsip-prinsip ini.
  • sekolah seharusnya mengambil langkah-langkah yang lebih aktif untuk melaksanakan prosedur pengajaran dan pembelajaran dan menerapkan metode yang akan mengakomodasi prinsip-prinsip yang ditetapkan di atas.
saya menyadari banyak (jika tidak semua) prinsip-prinsip dan implikasi yang ditetapkan diatas terbuka untuk tantangan, tetapi dimana nilai-nilai, prinsip-prinsip dan inti dipercaya dapat lepas dari subjektifitas. ini mungkin termasuk ilustrasi :
  • survey yang komprehensif oleh Joan Freeman mengenai penelitian internasional saat ini tentang pendidikan anak-anak dan pemuda yang cakap, dimana dia menyimpulkan bahwa 'keprihatinan yang dominan saat ini mengenai penelitian pendidikan bagi orang yang sangat cakap adalah interaksi antara potensi sang anak dan ketentuan untuk mengembangkannya'. tanpa elemen yang dinamik itu, kita kembali ke ide lama tentang kemampuan tetap (fixed abilities), terutama kecerdasan' (Freeman 1998;56). selain diferensiasi, Freeman melihat pengindividualisasian sebagai rute lain untuk membangun potensi. 'dimana murid memiliki tanggung jawab yang besar bagi konten dan kecepatan untuk kemajuan pendidikan mereka sendiri. disini, anak-anak akan dibutuhkan untuk memonitor pembelajaran mereka sendiri (ibid.:56)
  • Stephen Ceci (1990;1996) dan Michael Howe (1990) menyanggah dengan kuat ide tentang orang-orang yang unggul dalam beberapa bidang dapat melakukannya karena mereka berbakat atau istimewa : komitmen dan latihan telah menjadi penentu yang lebih kuat untuk penampilan yang luar biasa, daripada kemampuan dasar (underlying ability).
  • Paul Black dan Dylan Wiliam (1998) memberikan laporan yang berpengaruh pada peran kunci dari penilaian formatif (atau "penilaian untuk pembelajaran") dalam menaikan standar sekolah.
  • Chris Watkins (2001) peninjauan yang luas mengenai bukti penelitian menunjukkan bahwa meperkirakan nilai pencapaian dapat menurunkan kualitas kinerja.
  • semakin besarnya pengakuan bahwa berpikir dan belajar adalah kegiatan sosial yang terkait antara yang satu dengan yang lainnya; interaksi sosial dilihat sebagai sesuatu yang penting untuk proses belajar, seperti memberi perhatian, memori logis, pembentukan konsep dan batin. penelitian dalam domain ini memiliki pengaruh yang besar terhadap tulisan psikiater rusia, Lev Vygotsky, tapi aplikasi terbaru terdapat di bidang pendidikan Inggris Raya meliputi Paul Light dan Karen Littleton (1999) demonstrasi yang signifikan dari pembelajaran berbasis sosial dan relasional. bahkan dimasa 'standarisasi uji penilaian' (yang didesain untuk menaikkan standar pendidikan melalui keterangan dari kesuksesan atau kegagalan individu).
  • implikasi pendidikan dari berkembangnya bukti dari neuroscience kognitif. dalam ulasannya dalam masalah ini, John Geake mencatat bahwa "ada implikasi pendidikan disini untuk mengukur keberhasilan sekolah sebagai suatu fungsi dari siswa" dirasakan sebagai keberhasilan individu, terlepas dari tingkat pencapaian mereka. ini bukanlah sebuah pembodohan, bahkan kenyataannya sebaliknya. ini adalah sebuah panggilan untuk organisasi sekolah untuk untuk lebih jauh mengenali perbedaan individu berbasis neurobiologically dalam menanggapi pembelajaran sekolah, dalam rangka untuk memutuskan siklus kompetensi rendah yang menghasilkan kepercayaan diri rendah yang menghasilkan kompetensi rendah, juga untuk mengurangi keterbelakangan yang disebabkan oleh anak-anak yang istimewa dalam akademis tetapi mengalami kebosanan dengan kurikulum yang tidak menantang dan tidak sesuai dengan mereka (Geake 2002:7)
  • Diane Montgomery menyimpulkan dalam buku yang dia edit able underahcievers (2000), dimana dia mengamati bahwa 'semua peserta didik harus mengalami pendidikan yang mendukung dan menghargai mereka, apapun perbedaan mereka. untuk mencapai tahap ini, pendidikan umum perlu dibuat lebih fleksibel. akses terhadap kebutuhan khusus seharusnya berdasarkan kepada prinsip-prinsip inklusi dan merajuk pada diri sendiri dan menggunakan otentik atau penilaian berdasarkan kinerja untuk menyediakan umpan balik, baik untuk guru maupun peserta didik. peserta didik memerlukan kesempatan untuk menyumbangkan pandangan mereka sendiri terhadap nilai dan kelayakan dari pendidikan yang mereka dapatkan (ibid.:202)
Petanyaan untuk di diskusikan
  • apa inti dari prinsip pendidikan anda?
  • apa implikasi dari prinsip prinsip ini?
  • mana yang anda anggap sebagai jantung dari keberhasilan : bakat atau usaha?
  • bagaimana cara anda membuat murid anda mengetahui apa (dan bagaimana) yang mereka pelajari?

Minggu, 29 November 2009

kilas balik

1.1 "their own secret colours" bakat yang diketahui dan bakat yang terpendam : tantangan dari yang tak terduga

Saya tidak pernah menganggap saya pintar, tapi sekarang saya pikir mungkin saya pintar
(seorang murid di kelas berbakat dan istimewa DfES Excellence)

Seseorang yang yakin itu benar, itu akan menjadi benar, atau menjadi benar dalam pikiran orang itu (whatever one believes to be true either is true or becomes true in one's mind) (John Lilly, the centre of the cyclone)

Dalam inti buku ini tersimpan kenangan saya pada Robert, seorang anak berusia 10 tahun yang saya ajar di Hampshire lebih dari satu dekade yang lalu. Robert anak yang besar dan dianggap seorang yang bully oleh anak-anak lainnya, dan dia menantang (memberontak) dalam kelas. dia memiliki kesulitan belajar, kalau tidak bisa dibilang buta huruf. dan beberapa minggu sebelum akhir tahun ajaran, saya menemukan kalau dia berbakat. tdak berbakat secara global, tidak secara psikometrik atau ber iq jenius, tetapi tetap, berbakat. saya menemukan bakatnya secara tidak sengaja. sekolah kami berpartipasi dalam lomba puisi W. H. Smith di sekolah, dimana sekolah telah membawa pujangga David Orme ('manggo chutney') untuk bekerja bersama anak kelas 5. dan sebagai salah satu latihan mereka dalam menulis puisi, anak-anak kelas 5 pergi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengeksplorasi alam sekitar sekitar sekolah untuk mencari inspirasi. mereka melukiskan apa yang ada disekitar mereka, beberapa mencatat, menggambar sketsa, melihat pohon, dedaunan dan serangga dalam berbagai sudut dan pencahayaan, bermain dengan bahasa, tertawa dan bersenang-senang. Dan mereka kembali ke kelas mereka untuk menuangkan pemikiran, catatan, persepsi dan refleksi dalam sebuah puisi. saya bersama Robert dan grupnya selama mereka diluar, kebanyakan untuk mengurus kecenderungannya untuk mengganggu anak-anak lainnya, tetapi ketika kembali ke kelas, perhatian saya teralihkan oleh anak-anak lainnya. pada saat saya datang ke meja Robert, dia sedang menulis kalimat yang dapat dibaca, walau dalam kecenderungannya ia salah eja dan tulisannya yang cakar ayam. saya bertanya padanya apa yang sedang dia tulis, dan ada jeda beberapa saat sebelum ia akhirnya berhasil menyusun kalimat dalam pekerjaannya. lalu ia menjawab, dalam suaranya yang kecil dan lambat-lambat hingga hampir saya tidak dapat mendengarnya, 'even the winter leaves have their own secret colours.' (bahkan daun musim dingin pun memiliki warna rahasianya sendiri).

Dan itu dia. satu kalimat. tapi kalimat yang luar biasa!. saat itu adalah di tengah musim panas, dan Robert menemukan dan mempelajari daun musim dingin yang terpencil dan membusuk. dan dalam observasi dan lantunan lambatnya, robert menangkap sebuah gambaran yang mengandung metafora yang paling tenang dan hati-hati. dia berkata 'saya yakin pak Hymer memperhatikan saya. saya tahu saya tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik, tetapi dalam beberapa situasi, saya bisa melakukan sesuatu yang dapat membuat anda terpana'. usaha terbaik anak-anak dikumpulkan dan diterbitkan secara lokal dalam sekolah, dalam sebuah antology yang berjudul "their own secret colour". dengan bantuan David Orme, Robert mengenalkan antologi pada para orang tua dalam peluncuran offisialnya. dia kemudian memberi tahu saya bahwa itu adalah pertamakali nya dia dimintai tolong untuk melakukan sesuatu yang luar biasa penting. momen yang luar biasa ini sekaligus titik balik perubahan sikap dan performanya di sekolah yang sangat mengejutkan. dia memandang dirinya sendiri sebagai seorang pujangga, sebagai seseorang yang dalam keadaan yang tepat dapat menghasilkan rangkaian kata yang mengagumkan. dia tetap bergumul untuk dapat membaca, menulis dan menguasai konsep pelajaran dengan kecepatan teman-teman sekelasnya, tapi bullying yang dilakukannya sudah berhenti, dan pertemanan dan rasa hormat antar teman pun tumbuh dan Robert berjalan sekeliling sekolah dengan percaya diri yang matang. tampaknya dia menjadi anak yang saleh. dan bila itu adalah efek dari persepsi Robert sendiri, siapa saya hingga saya bisa mengecewakannya dengan mengatakan hal-hal negatif? beberapa minggu kemudian tahun ajaran sekolah berakhir. saya meninggalkan sekolah dan pergi dari kota itu. saya tak tahu ia akan menjadi seperti apa.

apakah Robert berbakat? lebih spesifiknya, apakah dia seorang pujangga berbakat? bisakah seseorang mengatakan tanpa "dalam situasi yang tepat", ia akan mendapat inspirasi pujangga yang sama? apakah bakat yang sejati tergantung pada demonstrasi bakat seiring waktu, jika tidak rutin, lalu lebih dari satu kali kesempatan? untuk saya sendiri, saya hanya tahu, pengenalan Robert pada prestasinya telah menciptakan efek domino, yang bagaimanapun juga bersifat sementara. pengalaman ini menyisakan saya 2 pertanyaan yang menganggu: pertama, bisakah saya mengetahui potensi seorang anak? dan yang kedua, kalau jawaban dari pertanyaan pertama adaalah tidak, (dan tidak adanya hubungan samasekali antara robert dan silsilah keluarganya yang menujukkan bakat pujangga mengalir dalam darah) bukankah saya memiliki tanggung jawab untuk menganggap tiap anak memiliki kapasitas untuk menunjukkan performa yang luar biasa? tentu saja, saya tidak perlu mengetahui kapan sampai sejauh mana atau domain mana kinerja luar biasa tersebut timbul, tapi saya harus mengijinkan diri saya sendiri untuk lebih sering terkejut. dan untuk ini terjadi, saya tahu ketika saya mengajar harus untuk membuang semua prasangka tentang kemampuan, namun didefinisikan dan kemudian berjuang untuk menciptakan lingkungan belajar yang kaya akan tantangan intelektual dan menyenangkan, aman dan memelihara emosi, dan besar kemungkinannya untuk perpanjangan untuk semua murid saya. pada titik inilah keringat dingin mengenai realita mengalir: apakah mungkin ini dijalankan dalam apa yang dipandang sebagai dunia nyata? saya akan berargumen dalam buku singkat ini bukah hanya hal ini mungkin (saya sering melihat guru yang berbakat melakukan ini lagi dan lagi, seringkali melewati semua rintangan), tetapi buah pengetahuan yang paling terkini mengenai penelitian tentang otak, pembelajaran dan kebutuhan dari peserta didik ( termasuk peserta didik yang berbakat dan istimewa) menuntut kami mencoba.

pertanyaan untuk di diskusikan :

  • bisakah kita benar-benar mengetahui potensi seorang anak?
  • apakah seorang anak dengan masalah kesulitan belajar yang serius dapat dikategorikan "girfted"?
  • apakah pendekatan inklusif untuk anak cerdas berbakat memungkinkan?